Dilatarbelakangi oleh keruntuhan ekonomi krisis finansial Asia 1997, adanya
kritik terhadap pemerintahan orde baru yang saat itu dipimpin oleh Presiden
Soeharto dan juga dipicu oleh tragedi Trisakti yang hingga sampai saat ini
masih dikenang yang mengakibatkan empat mahasiswa Universitas Trisakti terbunuh
pada unjuk rasa 12 Mei 1998. Kerusuhan ini juga menimbulkan tindak
penindasan terhadap etnis Tionghoa.
Kronologi Kerusuhan
1998
§
Krisis Finansial Asia
Krisis keuangan yang melanda
hampir seluruh Asia Timur pada Juli 1997, tentunya mengakibatkan kekacauan dan
kepanikan yang dirasakan negara-negara ASEAN. Indonesia adalah salah satu dari
tiga negara yang terkena dampak krisis yang paling parah.
§
Terbunuhnya Empat Mahasiswa Trisakti
Setelah itu, keadaan semakin mencekam
setelah aksi demo krisis moneter yang dilakukan mahasiswa menelan 4 korban
jiwa. Empat korban itu adalah mahasiswa dari Universitas Trisakti yang ditembak
mati oleh aparat keamanan. Peristiwa tewasnya empat mahasiswa Universitas
Trisakti itu dikenal sebagai Tragedi Trisakti.
§
Penindasan Terhadap Etnis Tionghoa
Tidak hanya berhenti sampai aksi unjuk
rasa dan bentrokan dengan aparat keamanan, kerusuhan juga bergulir dengan
menindas etnis Tionghoa terutama wanita.
Respon Dunia Terkait
Kerusuhan 1998.
Beberapa respon dunia yaitu :
·
Singapura membuka Bandara Internasional Changi selama 1 x
24 jam dan siap menerima kedatangan korban kerusuhan.
·
Taiwan menyampaikan protes kepada pemerintah
Indonesia serta mengirimkan pesawat untuk membawa para korban kerusuhan.
·
Malaysia menggelar aksi demonstrasi guna
mendukung penuh korban kerusuhan. Lin Juxiang, meminta Komite HAM PBB
untuk menyelidiki peristiwa pemerkosaan bergilir yang terjadi pada wanita etnis
Tionghoa Indonesia dan kasus pembunuhan yang terjadi, serta menyerahkan hasil
penyelidikan Internasional untuk diadili.
·
Amerika Serikat memaksa pemerintah Indonesia
menghentikan kerusuhan ini dan juga mengirimkan sejumlah kapal perangnya di
Indonesia untuk mengangkut korban kerusuhan.
Pelaporan Dan Penyelidikan Kasus Kerusuhan Mei 1998
Berdasarkan
hasil penyelidikan TPGF (Tim Gabungan Pencari
Fakta yang dibentuk oleh presiden B.J.Habibie), ditemukan ada 85
perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual dengan rincian 52 korban
pemerkosaan, 14 korban penganiayaan, 10 korban penganiayaan seksual, dan 9
korban pelecehan seksual. Meskipun, tim sudah dibentuk tetapi oknum-oknum yang
mendalangi kerusuhan mei 1998 masih belum terungkap dan kasus ini terkesan
ditutupi. Beberapa pihak berpendapat kerusuhan
ini sudah direncanakan oleh beberapa petinggi pemerintahan dan beberapa lagi
berpendapat bahwa kerusuhan ini diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu. Etnis
Tionghoa Indonesia pun menganggap kejadian ini adalah bentuk kejahatan genosida (pembasmian
dan pemusnahan) terhadap etnis Tionghoa.
Akhir Kerusuhan 1998
Kerusuhan
mei 1998 ini menghasilkan pengunduran diri Presiden Soeharto yang dipaksa
mundur pada 21 Mei 1998 dan dilanjutkan dengan pembentukan Kabinet Reformasi
Pembangunan di bawah pimpinan Presiden B.J.Habibie.
Pada
akhirnya, Tim Gabungan Pencari Fakta ( TGPF ) yang dibentuk oleh Presiden B.J.
Habibie, tidak
berhasil mengusut tuntas oknum-oknum yang terlibat kerusuhan mei 1998 ini dan
terkesan ditutupi dari publik. Kerusuhan mei 1998 berakhir begitu saja tanpa
ada pengambilan tindakan lebih lanjut dan hanya menjadi sejarah kelam bagi
bangsa Indonesia.
Komentar
Posting Komentar